Tradisi Ramadan di Berbagai Negara: Unik dan Menarik! - Ruang Belajar Channel

Tradisi Ramadan di berbagai negara

Daftar Isi

Ramadan adalah bulan suci yang penuh berkah dan dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Selain berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, Ramadan juga dipenuhi dengan berbagai tradisi unik di setiap negara. Tradisi-tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya dan cara umat Islam dalam menyambut serta menjalani bulan penuh ampunan ini.

Dari lentera Fanous yang menerangi jalanan Mesir hingga dentuman meriam sebagai penanda buka puasa di Uni Emirat Arab, setiap negara memiliki cara khas dalam merayakan Ramadan. Tradisi-tradisi ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menambah kekhusyukan dalam menjalankan ibadah.

Artikel ini akan membahas berbagai tradisi Ramadan dari berbagai negara, mengungkap keunikan masing-masing, serta memahami makna di baliknya. Simak selengkapnya agar kita semakin mengenal keberagaman Islam di seluruh dunia!

Tradisi Ramadan di Berbagai Negara

1. Indonesia – Ngabuburit & Buka Bersama

Di Indonesia, Ramadan identik dengan tradisi ngabuburit, yaitu kegiatan menunggu waktu berbuka puasa dengan berbagai aktivitas seperti jalan-jalan, berburu takjil, atau mengikuti kajian keagamaan. Tradisi ini menjadi momen yang dinanti-nanti oleh masyarakat, baik di kota maupun di desa.

Selain itu, buka bersama (bukber) juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Ramadan di Indonesia. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama keluarga, teman, atau rekan kerja sebagai ajang silaturahmi dan mempererat hubungan. Masjid-masjid dan komunitas Muslim juga sering mengadakan buka puasa gratis bagi masyarakat, sebagai bentuk kepedulian dan berbagi berkah Ramadan.

Arab Saudi – Iftar Bersama di Masjid Nabawi

Di Arab Saudi, khususnya di kota suci Madinah, terdapat tradisi berbuka puasa (iftar) bersama di Masjid Nabawi. Setiap hari selama bulan Ramadan, ribuan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di halaman masjid untuk menikmati hidangan berbuka yang disediakan oleh para dermawan setempat.

Makanan iftar yang disajikan biasanya sederhana namun bernutrisi, seperti kurma, roti, yoghurt, air zam-zam, dan nasi dengan daging atau ayam. Tradisi ini bukan hanya sebagai bentuk sedekah, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah antar sesama Muslim.

Selain di Masjid Nabawi, suasana berbuka puasa di Masjidil Haram, Makkah, juga tidak kalah meriah. Jamaah yang sedang menjalankan umrah atau ibadah lainnya dapat menikmati hidangan berbuka puasa gratis yang disediakan oleh berbagai organisasi dan individu yang ingin berbagi keberkahan Ramadan.

Mesir – Fanous, Lentera Ramadan yang Ikonik

Di Mesir, Ramadan identik dengan Fanous, lentera berwarna-warni yang menghiasi rumah, jalanan, hingga masjid. Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak zaman Dinasti Fatimiyah, ketika Khalifah Al-Mu'izz li-Din Allah memasuki Kairo pada bulan Ramadan, dan penduduk menyambutnya dengan lentera bercahaya.

Hingga kini, Fanous tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga menjadi simbol kegembiraan dan kemeriahan Ramadan. Di pasar-pasar tradisional, seperti Khan El-Khalili di Kairo, banyak dijual lentera dengan berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari yang berbahan logam, kaca, hingga plastik.

Selain Fanous, suasana Ramadan di Mesir juga semakin meriah dengan hidangan khas seperti Kunafa, Qatayef, dan Ful Medames, serta tradisi menabuh bedug atau drum besar oleh Mesaharati untuk membangunkan sahur.

Turki – Drummer Sahur yang Membangunkan Warga

Di Turki, ada tradisi unik yang masih dilestarikan hingga kini, yaitu para penabuh drum sahur atau dikenal dengan sebutan Ramazan Davulcusu. Mereka berkeliling kota dengan mengenakan pakaian tradisional Ottoman sambil menabuh davul (drum besar) untuk membangunkan warga agar bersiap makan sahur.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kekaisaran Ottoman, ketika belum ada jam alarm atau teknologi modern untuk membangunkan orang di waktu sahur. Hingga saat ini, sekitar 2.000 penabuh drum masih menjalankan tradisi ini di berbagai kota di Turki, terutama di daerah-daerah yang masih menjaga budaya Ramadan secara kental.

Sebagai bentuk apresiasi, masyarakat biasanya memberikan uang tip atau hadiah kecil kepada para drummer sahur. Tradisi ini bukan hanya sekadar membangunkan orang, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan dan semangat kebersamaan selama bulan suci Ramadan.

Pakistan – Ramadan Bazaars yang Meriah

Di Pakistan, Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah tetapi juga momen pasar Ramadan atau Ramadan Bazaars yang meriah. Selama bulan suci, berbagai kota di Pakistan seperti Karachi, Lahore, dan Islamabad dipenuhi dengan pasar khusus yang menjual berbagai makanan berbuka, pakaian tradisional, hingga perlengkapan ibadah dengan harga terjangkau.

Salah satu daya tarik utama di Ramadan Bazaars adalah makanan khas berbuka, seperti samosa, pakora, jalebi, dan minuman penyegar seperti Rooh Afza. Warga berbondong-bondong datang ke pasar ini untuk membeli makanan berbuka atau berbelanja keperluan Idulfitri.

Pemerintah Pakistan juga sering menyediakan subsidi dan diskon khusus untuk beberapa bahan pokok selama Ramadan guna membantu masyarakat yang kurang mampu. Dengan suasana ramai dan penuh semangat, Ramadan Bazaars tidak hanya menjadi tempat berbelanja tetapi juga ajang berkumpul dan mempererat silaturahmi antar warga selama bulan Ramadan.

Maroko – Tradisi Nafar & Minuman Harira

Di Maroko, Ramadan dirayakan dengan tradisi unik yang disebut Nafar. Nafar adalah sebutan untuk orang yang bertugas membangunkan warga untuk sahur dengan meniup terompet atau memainkan drum kecil. Biasanya, seorang Nafar mengenakan pakaian tradisional khas Maroko dan berjalan berkeliling kampung sebelum waktu subuh. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Maroko.

Selain Nafar, Ramadan di Maroko juga identik dengan minuman Harira, yaitu sup berbahan dasar tomat, lentil, buncis, dan rempah-rempah yang kaya akan rasa. Minuman ini sering disajikan saat berbuka puasa bersama kurma dan roti tradisional. Harira dipercaya dapat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa serta memberikan rasa hangat di tubuh.

Dengan kombinasi tradisi unik Nafar dan sajian khas seperti Harira, Ramadan di Maroko menjadi momen yang penuh kebersamaan, spiritualitas, dan kehangatan keluarga.

India – Hidangan Khas Ramadan di Jalanan Delhi

Di India, terutama di kota Delhi, Ramadan menjadi waktu yang sangat dinanti karena suasana kuliner jalanan yang meriah. Kawasan seperti Jama Masjid dan Chandni Chowk berubah menjadi surga kuliner bagi umat Muslim dan pecinta makanan.

Hidangan khas Ramadan di Delhi sangat beragam, mulai dari kebab, biryani, nihari (semur daging pedas), shahi tukda (roti manis dengan krim), hingga falooda (minuman manis dengan susu dan es krim). Makanan-makanan ini dijual oleh pedagang kaki lima dan restoran klasik yang telah ada selama puluhan tahun.

Selain makanan, iftar (buka puasa) di masjid-masjid besar seperti Jama Masjid menjadi momen yang sangat istimewa. Umat Muslim berkumpul untuk berbuka puasa bersama dengan suasana penuh kebersamaan dan spiritualitas.

Ramadan di India tidak hanya menjadi waktu untuk beribadah, tetapi juga menjadi perayaan budaya dan kuliner yang mempererat hubungan sosial antar masyarakat.

Malaysia – Bubur Lambuk sebagai Sajian Khas Ramadan

Di Malaysia, salah satu tradisi khas Ramadan yang sangat populer adalah Bubur Lambuk, yaitu bubur beras gurih yang dimasak dengan santan, daging, rempah-rempah, dan berbagai bumbu khas. Bubur ini memiliki cita rasa yang kaya dan lezat, serta dipercaya memberikan energi bagi mereka yang berpuasa.

Tradisi membuat dan membagikan Bubur Lambuk biasanya dilakukan oleh masjid-masjid, komunitas, hingga organisasi sosial. Salah satu tempat yang paling terkenal dengan Bubur Lambuk-nya adalah Masjid Jamek Kampung Baru di Kuala Lumpur, di mana masyarakat berbondong-bondong datang untuk mendapatkan bubur ini secara gratis menjelang waktu berbuka puasa.

Selain menjadi makanan khas Ramadan, Bubur Lambuk juga melambangkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas Ramadan di Malaysia dan selalu dinantikan setiap tahunnya.

Uni Emirat Arab – Kanon Ramadan untuk Menandai Buka Puasa

Di Uni Emirat Arab (UEA), salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah tembakan kanon Ramadan untuk menandai waktu berbuka puasa. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian dari budaya Islam di wilayah tersebut.

Tepat saat matahari terbenam, sebuah tembakan meriam akan dilepaskan dari lokasi tertentu, seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Sharjah, untuk memberi tahu masyarakat bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda waktu berbuka bagi masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan yang ingin merasakan atmosfer Ramadan di negara ini.

Meskipun saat ini teknologi sudah berkembang dengan adanya azan dan aplikasi jadwal salat, kanon Ramadan tetap dipertahankan sebagai simbol tradisi dan warisan budaya Islam. Selain di Uni Emirat Arab, praktik serupa juga dapat ditemukan di negara lain seperti Mesir, Arab Saudi, dan Kuwait.

Makna di Balik Keberagaman Tradisi Ramadan

Ramadan dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia dengan berbagai cara yang unik dan menarik. Keberagaman tradisi ini dipengaruhi oleh budaya, sejarah, dan kebiasaan masyarakat setempat, sehingga setiap negara memiliki cara tersendiri dalam menyambut bulan suci ini. Meski begitu, ada satu hal yang menyatukan semua tradisi tersebut, yaitu nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan peningkatan ibadah.

Di berbagai negara, tradisi Ramadan selalu menekankan pentingnya berbagi, baik dalam bentuk makanan berbuka, sedekah, maupun kegiatan sosial lainnya. Selain itu, ibadah menjadi fokus utama, dengan adanya kegiatan seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan iktikaf di masjid.

Keberagaman ini justru semakin mempererat persaudaraan antarumat Muslim. Ramadan bukan hanya sekadar bulan ibadah, tetapi juga menjadi momen memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa solidaritas di antara sesama. Dengan memahami dan menghargai berbagai tradisi Ramadan di dunia, kita semakin sadar bahwa Islam adalah agama yang kaya akan keberagaman tetapi tetap memiliki satu tujuan utama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Ramadan selalu menjadi momen istimewa yang dirayakan dengan cara berbeda di setiap negara. Tradisi Ramadan di Berbagai Negara: Unik dan Menarik menunjukkan bagaimana keberagaman budaya memperkaya cara umat Muslim menjalankan ibadah dan mempererat tali persaudaraan. Meskipun tradisinya beragam, nilai-nilai seperti kebersamaan, kepedulian, dan peningkatan spiritual tetap menjadi inti dari bulan suci ini. Semoga artikel ini menambah wawasan dan menginspirasi kita untuk semakin menghargai keberagaman dalam Islam. Selamat menjalankan ibadah Ramadan

Ruang Belajar Channel
Ruang Belajar Channel Education Content Creator

Posting Komentar untuk "Tradisi Ramadan di Berbagai Negara: Unik dan Menarik! - Ruang Belajar Channel"