Pemerintah Indonesia baru saja merilis naskah akademik mata pelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) untuk siswa SD, SMP, hingga SMA. Langkah ini disebut-sebut sebagai terobosan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi era digital. Namun, benarkah kurikulum coding dan AI ini akan membawa dampak nyata, atau justru hanya menjadi ambisi kosong yang sulit direalisasikan? Mari kita bedah fakta dan tantangannya secara mendalam.
Apa Isi Naskah Akademik Coding dan AI?
Berdasarkan informasi yang beredar, kurikulum ini kemungkinan mencakup dasar-dasar pemrograman seperti logika komputasi, algoritma sederhana, hingga pengenalan AI seperti cara mesin belajar dari data. Untuk SD, materinya mungkin berfokus pada permainan edukasi berbasis coding (seperti Scratch), sementara SMP dan SMA diperkenalkan ke bahasa pemrograman seperti Python serta konsep AI dasar.
Tujuannya mulia: menciptakan generasi yang melek teknologi. Tapi, sebelum kita terbuai optimisme, ada beberapa pertanyaan besar yang perlu dijawab.
Tantangan Nyata yang Terabaikan
1. Infrastruktur Masih Tertinggal
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari 40% sekolah di daerah terpencil kekurangan akses internet stabil pada 2024. Bagaimana siswa bisa belajar coding jika komputer saja masih langka? Tanpa investasi besar di infrastruktur, kurikulum ini berisiko menjadi privilese siswa perkotaan saja.
2. Guru: Siap atau Terpaksa?
Mengajarkan coding dan AI bukan perkara mudah. Guru harus paham teknologi, tapi survei Asosiasi Guru Indonesia (AGI) 2023 mengungkap bahwa hanya 15% guru SD-SMP merasa nyaman dengan materi teknologi tingkat lanjut. Tanpa pelatihan intensif, naskah akademik ini bisa jadi hanya dokumen mati di laci sekolah.
3. Apakah SD Sudah Siap Belajar Coding?
Anak SD (usia 6-12 tahun) masih dalam tahap perkembangan kognitif dasar. Memasukkan coding dan AI terlalu dini bisa membebani mereka, apalagi jika literasi dan numerasi dasar belum dikuasai. Bukankah lebih bijak memperkuat fondasi sebelum melompat ke teknologi kompleks?
4. Sinkronisasi dengan Dunia Nyata
Industri teknologi di Indonesia memang berkembang, tapi lapangan kerja untuk lulusan dengan keterampilan coding dan AI belum sepenuhnya matang. Menurut laporan BPS 2024, hanya 25% perusahaan lokal yang memanfaatkan AI secara signifikan. Jika kurikulum ini tidak selaras dengan kebutuhan pasar, siswa bisa jadi belajar untuk masa depan yang belum ada.
Solusi Alternatif yang Lebih Realistis
Alih-alih menerapkan kurikulum secara serentak, ada pendekatan yang lebih cerdas:
- Literasi Digital Dulu: Ajarkan siswa cara menggunakan teknologi secara aman dan produktif sebelum coding.
- Pilot Project: Uji coba di 50 sekolah terpilih untuk mengukur keberhasilan sebelum ekspansi nasional.
- Pelatihan Guru Bertahap: Siapkan guru selama 2-3 tahun dengan kursus intensif coding dan AI.
Mengapa Kurikulum Ini Harus Diwaspadai?
Banyak negara seperti Finlandia dan Singapura berhasil mengintegrasikan coding ke pendidikan, tapi mereka punya modal kuat: infrastruktur mumpuni dan tenaga pendidik terlatih. Indonesia, dengan segala potensinya, belum berada di titik itu. Tanpa persiapan matang, langkah ini bisa jadi seperti membangun gedung megah di atas fondasi rapuh—indah di awal, runtuh di akhir.
Kesimpulan: Inovasi Harus Realistis
Naskah akademik coding dan AI adalah ide cerdas yang patut diapresiasi. Namun, keberhasilannya tidak ditentukan oleh dokumennya, melainkan oleh eksekusi di lapangan. Pemerintah perlu fokus pada infrastruktur, pelatihan guru, dan relevansi materi agar siswa SD-SMA benar-benar siap bersaing di era digital—bukan sekadar jadi penutup berita yang terlupakan.
Posting Komentar untuk "Kurikulum Coding dan AI untuk SD-SMA: Inovasi atau Sekadar Tren? Ini Fakta yang Perlu Diketahui"